Meracau: 5 Hal yang Nggak Banget Meskipun Indonesia Banget

Wednesday, March 28, 2018


Holla! Senang banget akhirnya mood buat nulis balik lagi, setelah segala riweuh-nya semester dua perkuliahan dan juga rerempongan pendaftaran CPNS yang akhirnya selesai juga. Semoga setelah ini blog ini bisa lebih sering saya isi dengan tulisan-tulisan yang entah isinya manis-najis atau yang sedikit (banget) berbobot kayak tulisan saya sekarang ini.

Jadi gini, belakangan ini saya semakin sadar atas lingkungan sekitar saya. Saya yang mulai sedikit banyak merasakan asam garam kehidupan (halah) jadi suka mengobservasi hal-hal yang dilakukan sama orang-orang di sekitar saya untuk saya jadikan bahan renungan. Dari observasi yang saya lakukan itu saya dapat banyak pelajaran tentang bagaimana saya harus bersikap sama orang lain, dan bagaimana saya harus bersikap ketika masuk ke sebuah lingkungan. Nah, salah satu hasil observasi yang saya dapatkan dari sekitar 5 tahun tinggal sendiri (semenjak kuliah) adalah saya jadi tahu beberapa kebiasaan orang-orang Indonesia yang secara pribadi nggak saya suka.

Well, dari 23 tahun usia saya, terhitung saya sudah 4 kali pindah tempat tinggal. Sejak umur dua sampai dua belas tahun saya tinggal di Sampang, Madura. Habis itu saya pindah ke Pati, tempat lahir sekaligus kampung halaman saya, sampai saya lulus SMA. Kuliah S1 saya habiskan di Depok, Jawa Barat. Satu tahun saya tinggal di Yogyakarta untuk kuliah S2 (sekarang lagi cuti), dan sekarang saya tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Bisa dibilang sih saya sudah cukup banyak kenal orang dari latar belakang yang berbeda. Dan 5 hal yang Indonesia banget yang saya nggak suka ini bukan berarti hasil generalisir dari hasil kenal saya sama banyak orang, dan bukan juga kelima hal ini dilakukan oleh semua orang Indonesia, Hanya saja, saya merasa 5 hal ini semacam jadi hal yang biasa dilakukan oleh kita orang Indonesia, baik secara sadar maupun nggak sadar. Nah, apa aja sih 5 hal itu?

1. Small talk alias basa-basi
Tau sendiri kan kalau orang Indonesia itu dikenal dengan keramahannya? Nah, keramahan ini sering ditunjukkan lewat basa-basi yang kadang jadi kelewatan dan membuat orang yang diajak ngobrol jadi nggak nyaman. Misalnya nih, kita baru ketemu sama teman lama, terus ujug-ujug pas abis haha hihi say hi dia bilang,

“Eh kamu kok gendutan sih sekarang? Perasaan dulu kamu nggak segede ini deh!”

Atau mendadak dia bilang,

“Gue denger lo kemarin habis keterima jadi CPNS ya? Gimana tuh tesnya? Lo bayar berapa? kan susah tuh keterima kalo nggak bayar atau kenal orang dalem!”

Sumpah, basa-basi macem gitu sama sekali nggak menyenangkan lho. Bayangkan perasaan orang yang dibilang gendut tadi, kalau ternyata dia selama ini cuma nyoba buat hidup lebih sehat, dan lebih sehatnya dia itu ya dengan menambah berat badannya. Dan orang yang tiba-tiba kita tembak dengan omongan “bayar ya biar keterima”, gimana kalau ternyata sebelum ikut tes dia belajar lewat buku-buku soal, belajar Undang-Undang, dan doanya nggak berhenti setiap malam biar bisa keterima karena dia mau bikin orang tuanya seneng? Saya yakin sih, masih ada basa-basi yang lebih menyenangkan hati, dan tentunya tanpa dibumbui oleh pernyataan-pernyataan yang judgemental ketika kita mau memulai pembicaraan sama orang lain 😊

2. Kepo alias pengen tau urusan orang
Kepo ini seringkali diartikan sebagai bentuk pedulinya kita sama orang lain. Nggak salah sebenarnya buat kita nanya sesuatu sama orang lain, tapi kalau nanyanya itu jadi lebih-lebih dan mulai menjurus ke hal yang sifatnya pribadi, itu sih nggak sopan namanya. Misalnya nih, kita lagi pergi ke tempat perbelanjaan sendirian, terus nggak sengaja kita ketemu sama seorang teman, nah obrolannya kayak gini:

“Eh elo, kok tumben sendirian? Cowok lo mana? Biasanya kan sama dia.”
“Eh iya, dia ada kok. Emang lagi pengen belanja sendiri aja.”
“Ah masa sih? Kan kalian selalu pergi berdua tuh kalau dari IG-story. Kalian lagi berantem ya? Atau udah putus jangan-jangan? Soalnya gue liat kalian udah ga pernah upload foto berdua lagi sekarang.”

Males nggak sih denger obrolan macem itu? Mana tau ternyata si pacar ternyata sedang dinas ke luar kota, jadi nggak bisa nemenin belanja. Atau memang kitanya juga sedang ingin me-time. Dan please deh, walaupun mungkin sebelumnya kita sering posting aktivitas di instagram story, bukan berarti ketika kita nggak memposting kegiatan seperti yang biasa kita post lantas terjadi sesuatu sama kita. Hidup kita toh tetap berjalan kan tanpa harus kita publikasikan lewat instagram story?

3. Suka membanding-bandingkan
Kalau kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain agar kita bisa lebih semangat dalam hal berprestasi, saya pribadi nggak akan menganggap itu sebagai masalah. Tapi kalau diri kita yang baik-baik saja kemudian dibandingkan dengan orang lain yang seringkali nggak apple to apple buat dibandingkan, rasanya tuh pengen bilang “duh please deh diem aja!”. Hal ini pernah terjadi sama saya, dan lumayan sering terjadi pas jaman saya SMA dulu. Saya lumayan sering dibanding-bandingkan sama teman saya terutama dalam hal prestasi akademik. Saya sering banget nerima pernyataan “Coba kamu kayak si A” atau “Kenapa kamu nggak bisa masuk IPA sementara si B bisa? Padahal kan kamu lebih pintar dari dia” dari orang di sekitar saya. Sedih lho dibanding-bandingkan seperti itu. Padahal saya sendiri tau kemampuan saya dan saya memilih melakukan hal yang berbeda dari orang lain agar saya bisa dapat hasil yang lebih baik juga.

4. Sotoy alias sok tahu
Ini nih yang paling sering bikin kuping saya panas. Orang Indonesia ini sering banget sok tahu atas kondisi orang lain. Bahkan kesannya lebih tahu daripada si orangnya sendiri. Misalnya nih yang pernah bikin saya emosi banget, ada seorang saudara saya (saudara agak jauh) yang kebetulan satu sekolah sama saya. Pas saya kelas dua SMA, saya masuk IPS dan dia masuk IPA. Nah kebetulan ada acara keluarga yang dihadiri sama orang tua saya dan orang tuanya dia. Di acara itu orang tuanya dia dengan sok tahunya bilang,

“Fira sih kebanyakan pacaran, makanya masuk IPS.”

Saya langsung hilang respect sama saudara saya tadi, dan memilih buat nggak perlu salaman kalau ketemu dia. I mean how the hell did you assume if I got into Social Class because I waste my time in a relationship? Pernah ketemu saya aja nggak, tau kegiatan saya di sekolah juga nggak, tau pusingnya saya memahami pelajaran eksak juga nggak. Tapi kok ya teganya ngomong semacam itu, padahal saya juga nggak pernah ngomong apa-apa tentang anaknya yang satu sekolah sama saya -_-

5. Suka memakai standar sendiri untuk mengukur pencapaian orang lain
Ini mungkin agak mirip sama membanding-bandingkan ya, tapi nggak yang secara langsung disebutkan pembandingnya siapa, karena yang dipakai adalah standar diri sendiri. Misalnya begini, selepas saya sidang skripsi, saya pulang ke rumah sebentar untuk liburan. Nah kebetulan orang tua saya menjemput saya di stasiun lalu mengajak saya untuk ikut serta ke acara kantornya yang kebetulan lokasinya dekat dengan stasiun tempat saya turun. Disitu saya ketemu dengan beberapa teman orang tua saya. Nah orang tua saya tentunya sudah cerita dong kalau saya sudah selesai sidang skripsi. Terus ada satu orang teman orang tua saya yang mengajak saya ngobrol, obrolannya seperti ini:

“Fira selamat ya sudah lulus kuliah! Habis ini mau ngapain?”
“Kalau nggak kerja ya mau lanjut sekolah lagi Bu.”
“Ih ngapain sekolah lagi? Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti nggak ada yang mau sama kamu. Langsung nikah aja habis ini!”

Duh! Bayangin ya, saya baru pulang dari perjalanan darat selama 6 jam, belum istirahat dengan cukup, eh langsung disambut sama obrolan nggak menyenangkan kayak gitu. Emang apa yang salah sih dengan perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi? Apa urusannya dengan jodoh? Toh di Al-Qur’an sendiri ditulis kalau manusia diciptakan berpasang-pasangan, dan kita akan dijodohkan dengan orang yang sepadan dengan kita? Dan bukan dia juga kok yang bayarin kuliah saya. Saya sih percaya ya, ilmu itu nggak akan nggak ada manfaatnya. Dengan terus belajar kita akan terus punya pola pikir yang berkembang, dan nantinya bisa kita pakai untuk mendidik anak kita nanti. Nggak ada ruginya melanjutkan pendidikan selama kita mampu secara jasmani, rohani, dan juga mampu secara finansial.
--

Sebenarnya kalau mau diingat-ingat, masih banyak hal-hal yang Indonesia banget yang saya rasa nggak cocok sama diri saya. Tapi mungkin 5 hal ini yang saya rasa paling mengganggu terutama dalam hal hubungan sosial saya sama orang lain. kesadaran saya atas hal-hal yang nggak saya sukai ini akhirnya membuat saya sekuat tenaga berusaha buat nggak melakukan hal-hal tersebut. Kalau saya sendiri nggak suka dan nggak nyaman diperlakukan seperti itu, jangan sampai orang lain merasa nggak nyaman karena kita sendiri nggak sadar sudah melakukan hal yang sama. Dan hal ini semacam jadi motto hidup sih buat saya, yaitu jangan menua dan dewasa sebagai orang yang menyebalkan. Semoga saya bisa konsisten ya melakukannya dan sampai ketemu di Meracau selanjutnya 😊


Love,
-f

You Might Also Like

3 comment(s)

  1. Plus nyinyir dan julid

    Wah indonesia banget emang wkwkwkwkw
    Apalagi di sosmed. beuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Bang! Sekarang mah maha benar netizen dengan segala kejulitannya :( Apa-apa dikomentarin, seakan paling bener sendiri

      Delete
    2. Dan pada sok tau semua, pada paling benar semua, serta paling suci semua wkwkwk

      Delete