Untuk Tuan, Tentang Kita Hari Ini

Thursday, March 22, 2018


Tuan, ini adalah surat saya untuk Tuan entah yang ke berapa. Dan jika Tuan lebih suka mengirimkan pesan Tuan lewat surat elektronik, maka biar saja saya yang agak sedikit suka publisitas ini mengirimkannya lewat sini, di tempat terbuka tempat saya biasa bercerita.

Tuan, ini dua puluh dua yang kesembilan yang kita temui sambil berjalan bersama. Orang yang membaca pesan ini mungkin akan mengira yang kita lakukan tak lebih dari berlebihannya orang yang sedang jatuh cinta, kembali ke masa remaja yang setiap bulannya saling mengucap selamat kepada kekasihnya. Biarlah jika memang ada yang berpikir seperti itu, toh memang tak semua orang punya cara yang sama untuk bersyukur.

Tuan, sembilan bulan mungkin masih seumur jagung buat sebagian orang. Tapi saya yakin, seberapa pun sebentarnya, jika dilalui dengan orang yang tepat, maka waktu akan terasa begitu berharganya. 

Mari kita tengok sebentar apa yang sudah kita lalui bersama selama ini.
Kita sudah mendaki dan melihat matahari terbit di dataran tertinggi Pulau Jawa. 
Kita juga sudah menikmati magisnya Candi Prambanan di sore hari sambil diiringi alunan lagu-lagu merdu.
Kita juga sudah pernah menghabiskan malam mengelilingi Jogjakarta, sengaja tak tidur agar bisa lebih lama bercerita. Meskipun akhirnya Tuan kalah juga dan meminggirkan mobil yang kita sewa  di depan Pasar Kranggan agar bisa beristirahat sebentar.

Lalu apa yang sudah kita lakukan sendiri-sendiri untuk satu sama lain?
Tuan pernah menunggui saya makan sahur dari bawah jendela kamar saya yang ada di lantai dua, padahal Tuan tahu Jogja di waktu subuh bisa dibilang agak mengerikan dinginnya.
Tak terhitung berapa kali Tuan kebingungan mencari saya yang pergi tanpa pamit, dan Tuan akan berjalan menyusuri Jalan Flora hingga Jalan Gayamsari, kemudian menunggu di depan pagar sambil merayu agar saya mau keluar dari kamar dan menemui Tuan.
Tuan juga pada akhirnya memberanikan diri menempuh 6 jam perjalanan, sendirian, ke tempat yang bahkan mungkin belum pernah Tuan dengar namanya, hanya untuk mengunjungi saya dan keluarga saya.

Bagaimana dengan saya?
Hm, tak etis rasanya jika saya yang ceritakan semuanya. Toh saya yakin Tuan sendiri akan ingat apa yang sudah saya lakukan untuk Tuan, baik hal baik maupun buruknya.

--

Tuan, saat ini saya berada di tempat terjauh yang kaki saya pernah tapaki selama dua puluh tiga tahun saya hidup. Saya pergi bukan karena ingin, tapi karena saya tahu bahwa dengan pergi hari ini, kelak saya tidak perlu lagi berjauhan dari Tuan. Kita berdua tahu bahwa seribu dua ratus kilometer ditambah satu jam perbedaan waktu tentu bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Tapi yakinlah kalau kita menghadapinya berdua. Kita sudah sekuat tenaga melangkah agar yang tersisa hanya kita berdua saja, maka saya minta agar Tuan kuat menahan rindu yang mungkin melelahkan jika dirasa, karena sejatinya hanya menyisakan hitungan mundur saja hingga tiba waktunya kita akan pulang ke dekap satu sama lain untuk tidak pernah dipisahkan lagi. 

Tuan, jaga diri baik-baik di Jogjakarta. Jangan lupa makan, jangan lupa kewajibanmu pada Tuhan, dan jangan hilang semangat agar toga hitam yang Tuan idamkan dapat segera Tuan kenakan. Doa saya selalu menyertaimu, dan selamat menikmati dua puluh dua yang ke sembilan.


Salam,

Puanmu

You Might Also Like

4 comment(s)