Meracau: Yogyakarta yang Mulai Berhenti Nyaman

Friday, June 16, 2017


Tiga hari lalu saya pulang ke rumah, setelah selama 4 bulan saya merantau di Yogyakarta dengan status kembali jadi mahasiswa. Kepulangan saya kemarin sejujurnya terasa sedikit pahit. Bukan karena saya teringat mimpi-mimpi lama saya yang pada akhirnya harus saya sesuaikan dengan usaha yang saya keluarkan, tetapi karena saya merasa ada beberapa hal yang membuat Yogyakarta kehilangan keramahannya menjelang kepulangan saya.

Saya memilih Yogyakarta sebagai kota tempat saya melanjutkan S2 dengan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah, sejak awal saya jatuh cinta dengan kota ini. Dulu, saat saya masih duduk di kelas 12 dan dihadapkan dengan banyaknya perguruan tinggi yang bisa saya pilih, saya sempat  ingin menaruh pilihan saya di program studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Tapi ternyata takdir berkata lain, saya akhirnya memutuskan untuk memilih Administrasi Niaga Universitas Indonesia sebagai tujuan pendidikan tinggi saya. Sampai akhirnya saya merasa muak dengan Jakarta dan seisinya, tetapi terlalu malas untuk ikut tes IELTS yang menjadi syarat agar saya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, Yogyakarta saya pilih sebagai tempat saya "kabur". Setidaknya, saya berharap saya bisa menenangkan diri dan menemukan kembali diri saya yang lama dengan pindah ke kota ini. Setidaknya, ya. 

Ketika saya diterima di Pascasarjana Komunikasi UGM dan pindah ke Yogyakarta, kenangan-kenangan manis saya tentang kota ini terus saya bawa. Well, Yogyakarta tidak banyak berubah sejak terakhir kali saya mengunjunginya. Kedai-kedai angkringan masih menjamur, masih banyak bisa kita temui tempat-tempat yang menjual makanan dengan harga murah dengan kualitas tidak murahan, orang-orangnya masih ramah dan siap membantu kapan saja, dan meskipun mulai macet dan mulai banyak apartemen dan hotel yang dibangun, buat saya suasana Yogyakarta masih membawa ketenangan.

Saya baru mulai belajar merasa nyaman ketika saya merasa ada hal lain yang mengusik ketenangan saya. Saya mulai merasa Yogyakarta mengeluarkan racunnya secara perlahan kepada saya, bukan seperti Jakarta yang racunnya dapat dilihat dengan nyata lewat hiruk-pikuknya, tetapi ini racun yang lebih laten, yang samar, yang efeknya ternyata sedikit lebih menyengat jika dibandingkan dengan Jakarta. Racun-racun itu muncul dari orang-orang yang berbicara hal-hal tentang hal buruk mengenai saya di belakang punggung saya, yang memilih untuk menjadi pengecut ketimbang bertanya dan terus berbicara dibalik ketidaktahuannya, dan juga dari orang-orang yang merasa dirinya lebih tahu mengenai apapun dibandingkan dengan orang lain, sehingga untuk sedikit mendengar saja mereka tidak mau. 

Saya mungkin terlalu terbiasa hidup di Jakarta, ya, yang orangnya tidak saling mengurusi urusan orang lain, karena buat mereka (dan saya pada akhirnya), hidup sendiri sudah cukup rumit, jadi tak perlu mengurusi orang lain. Berbuat baiklah dengan tidak mengusik kehidupan orang lain, kecuali dia meminta bantuan dari kamu - itu prinsip yang saya pegang. Dan ketika orang-orang di sekitar saya mulai tidak berada di jalur prinsip saya tadi, otomatis saya akan merasa tidak nyaman, dan menarik diri, karena saya malas jika urusan saya jadi urusan banyak orang. Nah, ketika saya menarik diri dan mencari orang yang saya rasa tepat dan bisa membantu saya, lagi-lagi suara sumbang muncul. Lagi-lagi saya disalahkan atas tindakan yang saya ambil, yang mungkin tidak sama dengan apa yang dipilih oleh mereka yang mungkin masuk ke dalam golongan mayoritas di lingkungan saya. 

Dari kondisi itu kemudian muncul pertanyaan besar di kepala saya:
Lantas, saya harus bagaimana? 

Saya bukan orang yang akan bermuka dua ketika dihadapkan dengan kondisi yang tidak saya sukai. Saya juga bukan orang yang akan mencari celah dengan mengubah sikap saya agar bisa diterima di lingkungan yang orang-orang yang tak sejalan pemikirannya dengan saya. Saya tidak mau menjadi sosok yang palsu.


Lelah, sangat. Itu yang saya rasakan ketika saya harus pulang ke Pati. Entah berapa kali saya menangis selama dua minggu terakhir sebelum kepulangan saya karena saya terlalu muak dengan keadaan sekitar saya. Saya sedih, karena Yogyakarta yang saya harapkan bisa menjadi penyembuh untuk luka yang saya dapatkan di Jakarta, ternyata malah meninggalkan luka yang lebih perih. 

Setidaknya saya bersyukur, sih, semua hal tidak menyenangkan yang saya rasakan tadi terjadi ketika mendekati saat saya pulang ke rumah. Yang berarti, paling tidak saya bisa istirahat sebentar dari kepenatan saya, sambil memikirkan langkah yang harus saya ambil jika saya kembali ke Yogyakarta nanti: entah mencoba menjadi sosok yang lebih memahami, atau kembali jadi orang yang tidak peduli. Yang jelas, menjadi palsu tidak ada di pilihan saya :)

Oh iya, semoga saat saya kembali nanti, Yogyakarta sudah nyaman lagi!

You Might Also Like

0 comment(s)