Cerita tentang Prajurit Pencerita

Sunday, May 28, 2017

Alkisah, ada seorang prajurit yang baru saja pulang dari medan perang. Ia pulang dalam keadaan tak baik. Bajunya kotor, tubuhnya penuh luka, dan di benaknya, ia tak mau lagi kembali ke medan perang. Ia menempuh perjalanan yang panjang sekali untuk tiba di rumahnya.

Satu hari saat senja mulai datang, ia mulai merasa lelah setelah menempuh perjalanannya yang berhari-hari. Ia memutuskan untuk berhenti di sebuah rumah sederhana yang ia temukan di kanan jalan pulangnya. Ia mengetuk pintu, lalu seorang gadis menjelang dewasa muncul di hadapannya.

Permisi, kamu yang punya rumah ini?” tanyanya kepada gadis itu.

Iya, saya pemiliknya. Ada apa, ya?’ gadis itu balik bertanya.

Boleh saya istirahat sebentar di sini? Saya seorang prajurit yang baru pulang dari perang, dan perjalanan pulang saya masih jauh,” jawabnya.

Oh! Silakan saja. Tapi maaf, ada sedikit biaya yang harus kamu berikan ke saya jika ingin istirahat di sini. Apa kamu bersedia?” kata gadis itu lagi.

Tak masalah. Saya punya uang sisa perang yang bisa saya berikan kepada kamu untuk biaya menginap saya,” jawab si prajurit.

Bukan uang, bukan. Kamu harus bercerita kepada saya. Tentang apapun, sampai akhirnya kamu harus pergi untuk melanjutkan perjalananmu,” jawab si gadis.

Itu lebih baik! Saya punya banyak cerita, dan saya suka bercerita. Mereka yang mengenal saya bahkan menjuluki saya sebagai Prajurit Pencerita,” jawab prajurit itu sambil tersenyum senang.

Baik kalau begitu. Silakan mulai bercerita dan nikmati waktumu di rumahku,” kata gadis itu.

--

Si Prajurit Pencerita ternyata punya banyak sekali kisah untuk diceritakan kepada gadis si pemilik rumah. Mulai dari kisah orang-orang lampau di negeri barat nan jauh, kisah tentang perangnya, kisah tentang kawan-kawan prajuritnya, kisah tentang pencuri dan pohon yang runtuh, dan satu yang membuat si gadis tak habis pikir adalah kisah si prajurit yang ternyata pernah belajar tentang astronomi, namun tak percaya tentang semesta dan seisinya.

Setiap sore, si prajurit dan si gadis akan mencari bukit tertinggi, melihat matahari terbenam, sambil bercerita hingga petang datang. Saat bintang mulai muncul, mereka tak berhenti. Cerita-cerita itu akan terus bergulir, diselingi kelakar-kelakar renyah dan pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya mengungkap segala rahasia antara mereka berdua. Cerita mereka baru akan berhenti saat pagi tiba, ketika puncak rasa lelah mereka mulai terasa dan tak bisa lagi ditahan dengan bercerita.

--

Maaf, saya harus pergi ke kota sebelah untuk beberapa hari. Kamu tak apa kan sendirian sebentar disini?” kata gadis itu di sebuah pagi, menandakan waktu bercerita mereka harus diakhiri.

Kamu serius mau meninggalkan saya sendirian? Bagaimana dengan cerita-cerita kita? Saya masih punya banyak lagi yang belum diceritakan!” si Prajurit Pencerita mencoba menahan kepergian si gadis. Dalam hatinya ia tahu, ia tak mau sendirian, ia tak mau ditinggalkan, ia mau gadis itu selalu bersamanya.

Hanya sebentar. Saya janji akan kembali, dan kamu bisa kembali bercerita kepadaku,” jawab si gadis sambil tersenyum simpul.

Kamu yakin?” Prajurit Pencerita masih mencoba mengubah pikiran gadis yang diam-diam telah mengambil hatinya.

Saya berjanji saya akan kembali, dan cerita kita akan berlanjut lagi,” kata gadis itu sambil menggenggam lemah tangan si prajurit.

Prajurit Pencerita meraih tangan si gadis sesaat sebelum si gadis melangkah pergi, ia genggam erat, ia tak mau lepaskan. Ia tak mau ditinggalkan.

Si gadis tersenyum, dilihatnya si Prajurit Pencerita, lalu ia sadar: bahkan sebelum ia beranjak pergi, rasa rindu akan si Prajurit dan ceritanya, sudah menumpuk di hatinya



You Might Also Like

0 comment(s)