Meracau: Krisis

Sunday, July 31, 2016

Gambar dari sini


Saya pernah baca sebuah quote di Tumblr yang isinya,

“When you’re 20, every decision gives permanent effect for your life”

Saya yang waktu itu masih 19 tahun dan sedang excited menunggu ulang tahun saya yang ke-20, jadi tiba-tiba mikir, emang iya ya? Saya sambung-sambunginlah quotes ini sama apa-apa saja yang mungkin terjadi ketika seseorang ada di usia 20-an, dan memang iya, semua pilihan yang kita ambil di usia 20 bakal ngasih efek yang permanen ke kehidupan kita. Beberapa contohnya adalah: mau lulus kuliah kapan? Habis itu mau kerja atau kuliah lagi? Mau kerja di mana? Mau nikah umur berapa? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya yang, well, se-serius itu harus dipikirkan sebelum mengambil keputusan. Saya yang orangnya overthinker ini pun akhinya memilih hati-hati buat mengambil segala keputusan ketika saya sudah masuk usia 20 tahun nanti.

Sewaktu saya berusia 20 tahun, di bulan Januari 2015, saya mulai merencanakan semua yang ingin saya capai di sepanjang perjalanan saya sampai menginjak usia 21 tahun nanti. Banyak yang saya rencanakan saat itu, mulai dari berapa Indeks Prestasi yang ingin saya capai di semester 6 dan semester 7, bagaimana saya harus bersikap ke orang lain, keinginan saya harus bisa jadi orang yang lebih vokal, saya harus rajin menulis, dan yang saya anggap keputusan besar adalah, saya harus jadi sarjana di saat saya ulang tahun ke 21 nanti.

Waktu berjalan, kemudian saya sampai juga di bulan Januari 2016, dan saya sadar kalau ternyata cukup banyak keinginan saya yang berhasil saya wujudkan. Salah satunya adalah berusia 21 tahun dan lulus kuliah. Senang rasanya bisa mewujudkan mimpi terbesar saya saat itu, tapi  kemudian saya jadi galau sendiri karena saya mulai bertanya ke diri saya sendiri, “setelah ini, saya mau apa?”. Pertanyaan itu terus-terusan berdengung di kepala saya, sementara jawabannya nggak ketemu-ketemu (bahkan mungkin sampai hari ini).

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak merencanakan melakukan hal besar apapun selama setahun ke depan. Saya ingin mengikuti arus, mengikuti kemana kaki dan pikiran saya ingin berjalan. Saya memilih untuk bekerja, mengikuti apa yang orang-orang banyak lakukan setelah lulus kuliah, sambil menunda mimpi saya untuk melanjutkan S2 karena saya pikir akan lebih baik jika saya tahu dulu bidang apa yang ingin saya perdalam ilmunya saat kembali kuliah nanti. Saya pun menjadi orang (sok) idealis, memilih tempat kerja yang (sepertinya) saya inginkan.

Well, ini bulan ke lima setelah saya lulus, dan saya sudah ada di pekerjaan ke-dua saya. Kutu loncat? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya hanya... apa ya bahasa sebutannya, tidak menemukan apa yang saya cari. Saya senang dengan pekerjaan saya, awalnya. Tapi kemudian saya dihantui lagi oleh mimpi saya untuk melajutkan pendidikan, yang sejujurnya menakutkan. Saya juga merasa jadi anak yang durhaka karena tutup telinga terhadap nasihat orang tua saya, dan saya jadi nggak tenang sendiri. Saya merasa keputusan-keputusan yang saya ambil sejak lulus kuliah, sedikit nggak benar, dan jadi bumerang buat diri saya.

Dibilang saya sedang mengalami krisis di usia 20-an... sepertinya iya. Saya sedang mencari apa yang saya mau, tapi belum juga ketemu. Saya ingin mewujudkan mimpi saya yang sesungguhnya sudah saya punya sejak saya mulai kuliah, tapi takut dicap orang terlalu muluk-muluk. Saya ingin melakukan apa yang rata-rata dilakukan orang lain, tapi sejujurnya justru memberatkan saya. Saya ingin jadi anak yang berbakti, tapi nyatanya justru nasihat orang tua saya yang sering saya abaikan, dan justru omongan orang lain yang bukan siapa-siapa saya yang saya dengarkan.



Di titik ini, sejujurnya saya nggak tahu apa yang benar-benar saya mau.



Atau mungkin saya sebenarnya tahu, tapi saya terlalu sibuk memikirkan pendapat orang tentang hal itu.
Depok, 31 Juli 2016
Sambil mendengarkan Lost Stars-nya Keira Knightley yang diputar berulang-ulang

You Might Also Like

0 comment(s)