Kalah

Tuesday, January 19, 2016



Seorang gadis duduk di bangku dekat jendela sebuah kedai kopi kecil. Tangannya menggenggam erat cangkir cappucino panas yang ia pesan. Dari pandangannya ke arah jalanan yang basah karena hujan, orang lain juga akan tahu kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

--

“Apa yang kamu khawatirkan?” tanyaku kepadanya, yang saat itu memakai kemeja abu-abu yang dipadukan dengan sweater biru tua. Satu poin untukmu yang sejak datang ke sini berhasil membuatku sulit untuk tak menatap ke arahmu.

“Apa ya... Masa depan, sepertinya” jawabnya sambil membenarkan posisi kacamatanya. Satu poin lagi buatmu, karena melihatmu  membenarkan posisi kacamata akan semakin membuatku tak bisa mengalihkan pandangan.

“Kenapa memang dengan masa depan? Kamu kan bisa dibilang cukup berhasil sampai di titik ini” tanyaku lagi. Minus satu poin buatku, karena melontarkan pertanyaan bodoh yang jelas-jelas terlalu menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan.

“Konsep masa depan itu terlalu abstrak. Aku tak berani membayangkannya. Bahkan sekedar membuat rencana sederhana pun aku tak berani” kemudian ia teguk kopi hitam yang sepuluh menit lalu dipesannya. Dua poin! Satu untuk caramu meminum kopi, dan satu lagi untuk kopi yang kamu pesan.

Aku diam, tak tau harus menanggapi apa lagi. Sulit rasanya memilih satu dari sekian banyak pertanyaan yang sebenarnya bisa ku tanyakan ketika pendingin ruangan di kedai kopi ini membuatku tak henti-hentinya mencium bau parfummu yang harum. Satu poin lagi buatmu untuk parfum yang kamu pakai. Wanginya menyenangkan, membuatku ingin menghambur ke pelukanmu.



Sudah. Aku lelah menghitung. Terlalu banyak poin yang kau dapatkan.  Sejak pertama kita datang ke kedai kopi ini berbulan-bulan yang lalu, aku tau aku sudah kalah.  Aku kalah sejak mengajakmu ke sini. Aku kalah sejak aku merasa bahwa bersamamu walaupun tanpa ada obrolan adalah hal yang paling menyenangkan yang bisa aku lakukan. Aku kalah sejak aku mulai jatuh cinta kepadamu. Aku kalah karena semakin besar poin yang kau dapatkan, maka semakin besar pula perasaan yang harus aku pendam.

--

“Hei! Maaf aku terlambat, aku harus menunggu hujan reda dulu sebelum berangkat ke sini”, kata seorang lelaki berkemeja abu-abu dengan sweater biru tua kepada si gadis di dekat jendela.

Gadis itu tersenyum, dan mulai menghitung lagi poin-poin yang di dapat si lelaki, yang berarti juga menambah kekalahannya sendiri.

You Might Also Like

0 comment(s)