Mereka Yang Tak Bisa Percaya

Wednesday, October 07, 2015

Empat gadis duduk berhadapan. Keempatnya saling memegang tangan saling menguatkan. Mencoba mengurai cerita yang selama ini dipendam, yang menjadi alasan mengapa mereka menjadi sosok yang sekarang. Mereka yang tak bisa percaya.

--

Gadis pertama memulai ceritanya.

“Namaku Rea, 16 tahun. Aku tau aku masih terlalu muda untuk bicara cinta. Aku tau aku terlalu bodoh hingga aku dengan mudahnya hanyut dalam rasa.

Pada suatu hari, seseorang menghampiriku, ia datang dari kekosongan dan mengajakku menari. Caranya melangkahkan kaki, mengayunkan badan, membuatku terpesona. Aku yang sebelumnya tak berani membayangkan untuk bergerak dengan lincah, menyambut tangannya, mulai bergerak dalam irama. Lalu kami menari bersama. Aku yang mulai bisa bergerak dalam gerakan ritmis terus menari tak mau berhenti. Aku terlalu senang karena rasa dari tarian itu sendiri. Hingga aku tak sadar, ada kalanya aku menari sendiri, orang yang mengajakku menari malah pergi menjauh, menari sendiri bahkan kembali kekosongan tempat ia datang. Hingga akhirnya aku kelelahan, napasku mulai sesak karena gerakanku yang terlalu cepat dan tak diimbangi istirahat. Aku mengeluh kepada si penari, tapi apa jawabnya,

“Salahmu sendiri, kamu terlalu sombong untuk berhenti. Kamu pikir kamu penari terhebat padahal kamu tak lebih dari seorang amatir”

Seketika aku berhenti. Aku tak mau menari lagi. Aku tak mau percaya lagi pada orang yang mengulurkan tangannya padaku jika pada akhirnya aku hanya dibuat kehabisan napas, mendekati mati.”


--


Sepi. Lalu gadis kedua memulai ceritanya.

“Namaku Ara, 18 tahun. Aku seorang pemimpi.
Aku terbiasa bermimpi sendiri. Hingga satu hari, aku bertemu pemimpi lain. Kami mulai bertukar cerita tentang mimpi yang kami buat. Tahu tidak, mimpiku dan mimpinya ternyata sama. Kami kemudian sepakat untuk bermimpi bersama, tapi tak hanya itu, kami berencana untuk menjadikan mimpi-mimpi itu nyata bersama.

Satu kali aku berjalan sendiri, sambil menyusun mimpi-mimpi yang akan ku wujudkan bersama si pemimpi lain. Tetapi ku lihat si pemimpi lain sedang tertawa dengan gadis pemimpi lain yang entah siapa. Diam-diam ku dekati mereka, dan ku dengar semua mimpiku, mimpi yang ku bangun bersama si pemimpi lain, diceritakannya kepada si gadis pemimpi. Si pemimpi bilang itu semua adalah mimpinya, dan ia mau mewujudkannya bersama si gadis pemimpi lain.

Aku mundur. Mimpiku ku hapus begitu saja. Aku tak mau lagi percaya kepada siapapun yang berkata punya mimpi yang sama sepertiku. Aku tak mau percaya pada siapapun yang bilang mau mewujudkan mimpinya bersamaku.”


--


Sepi lagi. Helaan napas gadis ketiga terdengar berat sebelum ia memulai ceritanya.

“Eby, 20 tahun. Aku tak tau aku ini seperti apa. Aku terlalu muak pada rasa.

Sampai suatu hari, aku dipertemukan oleh malam dengan seseorang yang gemar menyumpah keadaan, sepertiku. Sosoknya yang begitu mirip dengan sosokku seketika membuatku takjub, aku mulai dihinggapi kupu-kupu setiap kali kami bertemu. Kami berkirim rasa lewat udara, bercerita rahasia-rahasia tergelap yang selama ini coba kami sembuyikan dari orang lain, membuat rencana ke taman bermain untuk sekedar menaiki roller coaster yang akan memuaskan adrenalin kami. Kami laksanakan semuanya. Kemudian zap! Dia hilang. Aku kebingungan mencarinya.

Aku lupa, dia sudah punya orang lain yang sudah lama jadi rekannya dalam merencanakan segala sesuatu. Rekannya yang selalu ia jaga perasaannya ketika sedang bersamaku. Rekannya yang bahkan tak tau bahwa ada aku dalam bayangannya.

Setelah ia pergi, aku tak sudi lagi percaya bahwa orang yang sosoknya begitu mirip dengan diriku, begitu bisa menerima keadaanku, akan selamanya berada di sampingku.”


--


“Cerita kalian rumit. Tapi sepertinya aku yang paling menyedihkan ceritanya. Namaku Ica, 20 tahun 9 bulan. Sedikit lebih tua darimu, Eby.

Kalian boleh bilang kalian jadi sulit percaya karena orang lain. Tapi kasusku, lebih menggelikan daripada kalian. Kalian tau matahari kan, yang setiap hari kalian temui, yang katanya adalah sumber energi terbesar bagi kehidupan. Aku tak percaya Matahari itu membawa kehidupan. Aku tak percaya hangatnya, panasnya, adalah alasan kenapa aku bisa hidup hingga sekarang.

Lihat aku, aku terbakar, bekas lukaku yang sudah hampir sembuh menjadi perih lagi karena ku biarkan tubuhku berada sebentar di ruang lapang yang terkena sinar Matahari. Buatku, sinar Matahari tak lebih dari pembunuh, pembuka luka yang sudah lama ku tutup dan hampir sembuh.

Aku tak percaya bahwa yang orang lain bilang adalah sumber kehidupan, adalah benar-benar sumber kehidupan.”

Gadis keempat menutup ceritanya dengan cepat. Ia tersenyum pahit sambil melihat ketiga gadis lainnya. Diam kembali menyeruak diantara mereka. Masing-masing mengelana dalam pikirannya sendiri, mencoba memahami alasan masing-masing untuk tak percaya. Gadis keempat memecah keheningan,

“Kita sudah tau cerita masing-masing kan? Sekarang jawab pertanyaanku, sampai kapan kita memilih untuk tak mau percaya?”

You Might Also Like

0 comment(s)