Berdelapan

Tuesday, July 14, 2015

Kita dipertemukan lewat batas bilangan magis yang katanya menandakan kecerdasan. Lalu kita digiring ke satu kecil terpencil yang tak membuat kita nyaris tak punya teman


Berdelapan,

Kita akan berteriak-teriak saat tak ada guru, hingga dihukum berdiri di depan seisi sekolah saat upacara hari Senin. Lalu kita akan menari-nari riang saat hujan turun, berseluncur sambil mengepel lantai depan kelas yang banjir, sampai lupa waktunya pulang.

Kita akan menonton film Laskar Pelangi di televisi di depan kelas, sampe tertawa terbahak ketika Mahar mulai bernyanyi. Tak lupa kita selipkan karet gelang di meja guru, biar guru Bahasa Indonesia kita tak jadi mengajar karena ketakutan.

Kita akan jadi tontonan karena harus mengikuti pelajaran olahraga di sore hari. Lalu jadi anak (sok) rajin ketika dipaksa bergabung dengan kelas lain semata demi persiapa Ujian Nasional. Sering juga, kita ditegur kepala sekolah, yang tiba-tiba saja masuk ke kelas untuk bilang, “Kalian sekarang pelajaran apa? Belajar yang rajin, biar diterima di sekolah unggulan!”

Ingat saat kita menggigil karena AC yang terlampau dingin untuk ukuran kelas kita yang kecil? Kita akan duduk saling berdekatan, meringkuk saling memeluk.



Berdelapan,

Sekarang sudah berjalan, memegang kemudi hidupnya sendiri-sendiri. Meski begitu, tak lupa bahwa kita pernah berjanji untuk setidaknya bertemu satu tahun sekali, untuk mengingat janji, mengingat mimpi, mengingat segala kenangan manis yang membuat tawa tak bisa berhenti.



Berdelapan,
Masih ingat kan untuk tetap menjadi Armada Masa Depan? J





Untuk Ova, Wanda, Elisa, Erika, Maia, Yolla, dan Alam
Jangan sibuk-sibuk, ayo ketemu!!

You Might Also Like

1 comment(s)