Melupakan dan Perpisahan

Saturday, March 07, 2015

Melupakan itu bukan perkara yang mudah, memang. Hanya saja, buatku, susah atau tidaknya melupakan, tergantung dari bagaimana perpisahan yang mengawalinya dilakukan.

---

Aku ingat bagaimana kita bertemu, di ruangan dingin penuh sekat, kemudian berbicara tentang keadaan yang sama-sama tak kita suka, lalu kemudian aku, dalam diam, mulai dirambati rasa.

Aku ingat bagaimana kemudian malam-malam tanpa tidur memerangkap kita berdua, membuat yang harusnya terpendam menjadi semakin muncul ke permukaan. Aku, kembali jadi anak kecil bodoh, tak bisa berbohong tentang perasaannya sendiri.

Aku masih ingat, bagaimana pesan-pesan lewat udara menjadi semakin tak terkendali jumlahnya, berbanding lurus dengan perasaan yang makin membuncah, yang membawa kita semakin dengan penuh adrenalin bermain-main dengan keadaan, menantang batas-batas kepemilikan, terpental-terbahak ketika mencapai puncak.

Aku ingat langit malam Jakarta, orang-orang yang hilir mudik, dan tembok putih kusam, membawa pesan padaku bahwa perpisahan itu tak lama lagi akan datang. Dan mau tak mau, aku harus siap menghadapinya.




Dan ya, aku masih sangat ingat, bagaimana pembicaraan tak penting yang jadi awalan, keputusanmu untuk menjadi orang brengsek, amplop coklat yang ku berikan, dan setiap langkah yang ku ambil di perjalanan pulang bersamaan dengan usaha sekuat tenaga untuk tak berbalik ke arahmu. Aku tak mau kau anggap masih mengharapkanmu.

---

Buku, lagu, film, dan teman-temanku menjadi pengalih perhatian yang sangat baik. Aku tak lagi memikirkan bagaimana keadaanmu, aku tak lagi peduli pada apa yang mungkin kau pikirkan atau pun kau rasakan. 

"Apa yang sebenarnya kamu cari? Kalau kamu saja bisa menyebutkan semua hal buruk yang dia punya, untuk apa kamu masih mengharapkannya?
Pertanyaan itu yang kemudian menjadi pengingat, bahwa memang sudah seharusnya aku beranjak pergi, bahwa sudah sepatutnya aku melupakan semua yang pernah terjadi diantara aku dan kamu, bahwa sudah sepantasnya segala perasaan yang dulu ku pikir nyata, tak lebih dari sekedar fantasi saja.

Mudahkah melakukannya? Yah, kalau kamu saja bisa dengan mudah memilih jadi orang brengsek untuk sekedar tak mengucapkan bahwa semua yang kita jalani sebenarnya adalah salam perpisahan, kenapa harus sulit buatku untuk melupakan? 

Oh iya, ini mungkin pesan terakhirku untukmu:
Tak perlu kembali kalau kau tak pernah memaksudkannya :)


You Might Also Like

0 comment(s)