Tentang Meninggalkan

Saturday, February 14, 2015


Katakan saja semuanya
Biar tak susah ku mencari makna diamnya
Biar tak repot ku berjalan meraba dalam gelapnya
Katakan, teriak sekalian

---

Untuk Tuan yang namanya selalu saya cari,

Entah ini detik ke berapa sejak terakhir saya membaca pesan dari kamu. Entah sudah berapa kali saya melihat layar ponsel untuk memastikan apakah notifikasi yang saya terima asalnya dari kamu. Entah sudah berapa makian dan rutukan saya lontarkan setiap kali saya mendapatkan nihil yang sama. 

Tuan, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan? Sibuk menghabiskan waktu bercumbu dengan kekasihmu kah, sibuk memainkan permainan atau menonton film yang entah apa di laptop kesayanganmu, atau sibuk mengacuhkan bahkan melupakan bahwa ada yang sedang menunggu pesanmu disini? Jawab, Tuan.

Kamu tau, saya muak sendiri disini. Seperti orang bodoh, menunggu pesan, menunggu tanda, hanya bisa diam tertahan rasa, terima saja bila nanti dibuang-ditinggal-begitu saja. Saya merasa dungu, merasa tinggi karena terbuai rencana-rencana sesaat yang saya dan kamu buat, tapi setelah semua terlaksana malah segalanya berubah terisi dingin-asing yang menyakitkan.

Maumu apa, Tuan? Bersenang-senang diantara janji yang pernah kamu lontarkan ke orang lain? Mencoba menantang batasan yang selama ini memenjarakan? Lalu apa maksudmu dengan "Sepertinya kamu adalah ketidakmungkinan yang mulai saya semogakan juga" tempo hari? Apa hanya ingin membuat saya lena dan mau melakukan semua yang kamu minta? Apa juga gunanya obrolan-obrolan yang kita lakukan hingga tengah malam, hingga pagi bahkan, yang katamu isinya adalah kejujuran, kalau akhirnya semuanya berakhir membusuk di ruangan yang kita ciptakan sendiri?

Tuan, saya tahu saya akan selalu berada di tempat yang paling pertama untuk ditinggalkan. Saya tahu dalam kondisi apapun, perasaan saya yang akan dikorbankan. Dan saya tahu, tak pantas jika saya bertanya tentang apa yang sebenarnya kita lakukan sekarang. Tapi ingat, Tuan, meninggalkan seseorang pun ada etikanya. Setidaknya ucapkan salam perpisahan, biar tak sesak hati saya menahan keinginan untuk sekedar mengetik-memanggil namamu di jendela percakapan kita yang tak tega untuk saya hapus. Ucapkan salam perpisahan, kalau perlu minta saya pergi, biar saya benar-benar beranjak dari ruang yang kita ciptakan, dan tenang saja, saya pun tak akan kembali.

Tuan, kalau memang segala bahagia yang kamu berikan kemarin adalah salam perpisahan yang tak terkatakan darimu, maka apa lagi yang pantas kamu terima dari saya, selain terima kasih yang tak akan pernah bisa saya ucapkan?

You Might Also Like

0 comment(s)