Tentang Sore Ini

Friday, January 09, 2015


Sore tadi berangin. Sedikit menyenangkan setelah siang harinya sangat terik, membuat saya tak henti mengumpat karena kaki saya menghitam terbakar matahari. Ditambah lagi sore tadi saya habiskan dengan bercengkrama di rumah seorang teman yang halamannya sangat asri, sore tadi harusnya menjadi sore yang sempurna. Harusnya.

--

Tangan saya akhir-akhir ini tak bisa lepas dari telepon genggam. Koneksi internet yang dulu lebih sering saya non-aktifkan ketika harus beraktifitas, sekarang jadi saya hidupkan sepanjang waktu. Pikiran saya sekarang sedang tak bisa fokus, saya terbawa rasa, terbawa euforia. 

Ada seseorang yang pesan singkatnya sedang dan selalu saya tunggu. Bukan lewat SMS seperti biasanya, kali ini pesan lewat messenger, yang butuh koneksi internet untuk bisa diterima. Saya seperti orang gila sepertinya, sebentar-sebentar melihat layar, menunggu dua tanda centang abu-abu berubah menjadi biru, atau menunggu tanda "Read" muncul di samping pesan yang saya kirim. Ketika dua tanda itu sudah saya lihat, sekali lagi saya harus menunggu, sampai ponsel saya berbunyi, atau setidaknya terasa getarannya, pertanda ada pesan masuk. Saya yang biasanya muak menunggu pesan balasan, sekarang jadi ikhlas dibuat menunggu. 

Tapi tadi sore sedikit berbeda. Saya menunggu pesan seperti biasa, sambil iseng membuka salah satu akun media sosial yang saya punya. Scroll demi scroll saya lakukan, sambil mata saya mencari satu avatar dari orang pesannya saya tunggu. Lalu ketemu. Ada sebuah gambar yang dia unggah, beserta sedikit kata sebagai captionnya, dan ada orang yang dia tandai di foto itu. Namanya tak asing, begitu juga ingatan tentang orang itu. 

Kemudian segalanya berubah. Saya jadi malas memandangi layar ponsel, saya tak peduli ada pesan atau tidak, sore yang tadinya menyenangkan berubah menjadi biasa saja. Lagi-lagi saya ditampar dengan keras oleh kenyataan. Ia sekali lagi mengingatkan bahwa saya sebenarnya bukan siapa-siapa. Tak lebih dari sekedar gelap, yang akan dicaci ketika orang sadar akan kedatangannya, padahal kedatangannya sendiri adalah suatu keniscayaan yang telah digariskan. 

--

Sejenak saya lupa: perasaaan, hati, rasa nyaman, yang sering dijadikan rumah oleh orang-orang, termasuk saya, terkadang terlampau membuat nyaman, membuat lena. Sampai saya lupa, rumah itu sebenarnya hanya sesaat akan saya singgahi. Bukan karena rasa nyaman yang diberikan tak bertahan lama, hanya saja, kadang saya lupa kalau rumah itu sudah ada pemiliknya.


"And I hate to say I want you
When you make it so clear
You don't want me

I'd never ask you cause deep down
I'm certain I know what you'd say
You'd say: I'm sorry believe me
I love you, but not in that way"

Not In That Way - Sam Smith

You Might Also Like

0 comment(s)