Roller Coaster

Thursday, January 29, 2015

Picture from here

Aku ingat saat kita berencana untuk pergi ke taman bermain. Kita begitu bersemangat, begitu dipenuhi adrenalin lalu ingin mencoba permainan yang sedikit berbahaya. Kita sama-sama ingin naik roller coaster, kereta berkecepatan super yang menaikinya perlu keberanian besar. Kita kemudian membayangkan bagaimana rasanya menaiki roller coaster, membayangkan menaik perlahan ke ketinggian, lalu dihempas ke bumi dengan sangat cepat, menukik secepat kilat, berputar di lintasan lingkaran yang membalikkan bumi sesaat. 

"Itu akan sangat menyenangkan!" katamu.
"Tentu! Apalagi kita melakukannya bersama," jawabku.

Tak lupa kita siapkan rencana-rencana lain: menikmati manisnya cotton candy, menaiki carousel seakan kamu pangeran dan aku putrinya, berjalan-berlari kesana-kemari sambil bergandengan, menikmati waktu di bawah matahari, hingga puncaknya, roller coaster sebagai penutup.

Rencana yang sangat sempurna, sepertinya.

--

Hari yang kita tunggu tiba. Di taman bermain kita lakukan semua yang kita rencanakan. Terpaksa tangan kiriku menggenggam cotton candy, karena tangan kananku kau genggam dan tak kau lepaskan. Carousel yang kita naiki berputar perlahan, dan kau berdiri di hadapanku sambil memegangi tanganku, katamu agar aku tak terjatuh dari kuda yang kunaiki. Lalu aku hanya bisa tertawa melihat tingkahmu. 

Kemudian kita berlarian di sana. Menonton pertunjukan para badut, mengabadikan semua tawa, sambil sesekali menertawakan tingkah anak kecil yang merajuk ke orang tuanya karena tak diijinkan naik suatu wahana. Hari itu terasa sempurna.

Senja hampir tiba, saatnya pertunjukan penutup. Kita berlari ke arah roller coaster yang nampaknya sudah tiba di antrian terakhirnya. Kita naik, memasang sabuk pengaman kuat-kuat, tak mau mati konyol karena kesenangan. Lalu perlahan roller coaster mulai berjalan, pelan, karena langsung melewati lintasan yang menanjak tinggi. Aku genggam tanganmu erat, kamu hanya menatapku sambil tertawa. Kemudian semuanya terjadi begitu cepat: kereta yang kita naiki turun dengan kecepatan maksimal, kita berteriak kegirangan. Kita dihempas ketika melewati lintasan yang menukik, dibuat lupa mana langit mana bumi saat melewati lintasan melingkar. Kita tertawa, kita berteriak sepuasnya, saat itu dunia jadi punya kita.

Singkat, seperti kedipan mata, seperti petir yang menyambar, roller coaster yang kita naiki akhirnya berhenti. Kita tertawa lepas, namun seketika diam yang berkuasa. Masih berbekas senyuman dan tawa di wajahmu setelah sekian menit diombang-ambing di atas kereta.

Semuanya tertahan di ujung bibirku, tak terkatakan.
"Rencana kita sudah terlaksana, kita sudah merasa bahagia, lalu setelah ini, mau apa?" 

You Might Also Like

0 comment(s)