Bicara Tentang Waktu

Monday, December 29, 2014

Time heals wounds.

Kalimat itu yang selama ini saya percayai, bahwa waktu akan menyembuhkan luka, atau setidaknya membuat saya lupa bahwa saya punya luka. Pun, kali ini, waktu berhasil membuat saya lupa bahwa banyak luka tertoreh di hidup saya, entah apakah luka-luka itu benar-benar telah sembuh atau hanya hilang sakitnya, yang jelas saya tak merasa perih lagi.

Waktu memang menyembuhkan, tapi ia butuh orang lain untuk melakukan penyembuhan itu sendiri. Dan yang terjadi pada diri saya, ia mengirimkan seseorang, yang akhirnya mampu membuat saya lupa bahwa saya pernah (atau masih) terluka.

Seseorang itu datang begitu saja, tak pernah berusaha mengalihkan perhatian saya agar saya lupa pada luka yang saya miliki, tak pernah meminta agar saya melupakan semua luka dan juga penyebabnya. Ia datang, di kesempatan yang tak pernah saya kira, di momentum yang saya sendiri sudah tak mau tau lagi bagaimana caranya agar saya bisa bangkit. Sosoknya penuh tawa, seringkali melontarkan sarkasme yang bisa membuat orang sakit hati, tapi dibalik semua itu, saya tau dia orang yang manis dan akan melakukan apa saja buat sekitarnya. 

Ah ya, meskipun ia datang, saya sejujurnya tak pernah sekalipun mencoba agar dia tau apa yang saya rasakan. Saya, kembali menikmati menjadi seorang pengagum rahasia, yang kemudian berubah menjadi seseorang yang jatuh cinta diam-diam.

Dan waktu pun masih melakukan pekerjaannya untuk menyembuhkan. Waktu membawa kami ke saat-saat yang saya sendiri tak pernah membayangkan, yang mengikis jarak, memutus canggung, namun membuat kami diburu oleh rasa bersalah, karena saya tau, waktu telah menjadikan orang itu penyembuh bagi orang lain terlebih dahulu. Waktu telah membuat ia jatuh pada perasaan yang lebih dalam dari pada yang ia rasakan untuk saya. Waktu juga telah membuatnya enggan untuk pergi, namun akhirnya harus menjaga dua hati di saat yang sama. 

Waktu, juga yang akhirnya akan menjadi jawaban kemana saya dan dia (jika kata kita tak pantas digunakan) akan bergerak: saling mendekat atau menjauh, saling terpaut atau malah menjadi sedekat orang asing. Siapa yang akhirnya akan bergerak terlebih dahulu, saya tidak tau. Biar saja waktu dan takdir yang bekerja sama untuk menentukan arah gerakannya. Saya hanya ingin menikmati waktu bersamanya yang mengalir, tak perlu direncanakan karena nampaknya waktu sendiri sudah punya rencana kapan saat-saat kebenaran diantara saya dan dia akan terjadi, yang jangkanya akan panjang atau pendek tak bisa saya perkirakan (atau tepatnya saya takut untuk memperkirakan).

Lalu untuk kamu, yang saya pikirkan selama tulisan ini saya buat, yang berhasil membuat kupu-kupu kembali beterbangan di perut saya, yang selama beberapa waktu ini menjadi orang yang paling saya tunggu pesannya, yang membuat saya akhirnya, merasa hidup lagi, terima kasih banyak :)


You Might Also Like

0 comment(s)