Nyatanya Saya Salah

Friday, August 15, 2014

Kalau saja beberapa waktu yang lalu saya berkesah, bahwa saya tidak akan pernah menyanyikan lagu lama itu lagi, nyatanya saya salah. Saya masih menyanyikannya terus-menerus, tidak dengan lantang, memang, tapi dengan lirih, sehingga tak ada orang yang mendengar, tak ada yang tahu saya menyanyikannya.

Kalau saja beberapa waktu yang lalu saya bilang ingin berhenti berjalan di lingkaran yang saya (dan kamu) buat, nyatanya saya salah. Saya masih terus berjalan di lingkaran itu, atau setidaknya, sesekali kembali masuk ke lintasan lingkaran itu. Entah kamu berjalan bersama saya atau tidak.

Kalau saja beberapa waktu lalu saya mencoba untuk tidak apa-apa bertahan dalam keadaan yang tidak bernama, nyatanya saya salah. Saya terus saja berdoa, meminta, agar suatu saat keadaan itu dapat memiliki satu sebutan yang saya sendiri bisa cukup lantang menyebutnya. Dan asal kamu ingat saja, disaat akhirnya salah satu dari kita mencoba menamai keadaan itu, tapi namanya tak sesuai dengan harapan saya, saya hanya bisa menangis semalaman, merutuki kondisi yang tak pernah berpihak pada saya.

Kalau saya ingat, sepertinya saya menyedihkan ya, tak pernah mau tahu bagaimana caranya supaya saya bisa bebas dari kamu, tapi malah membelenggu diri saya sendiri dengan segala hal tentang kamu.  Buat saya membelenggu diri sendiri itu kadang menyenangkan; saya bisa bebas menikmati perasaan saya. Tapi terkadang saya juga merasakan kalau terbelenggu itu sebenarnya menyakitkan.

Kalau saja saya beberapa waktu yang lalu saya mulai putus asa dengan apa yang saya lakukan atas kamu, nyatanya saya salah. Saya tidak pernah benar-benar putus asa. Saya toh tetap mencoba meyakinkan kamu untuk berubah pikiran, meskipun setelah itu saya tak benar-benar peduli jika kamu tetap pada keputusanmu.

Tapi kemudian ternyata saya salah, lagi. Kamu merubah keputusan, dan saya jadi bingung sendiri harus berbuat apa. Saya malah jadi bertanya sendiri ke pada diri saya, "Apa benar ini yang saya inginkan? Bukan karena penasaran semata? Lalu apa yang akan saya lakukan sekarang, mengingat segalanya sekarang sudah memiliki nama?"

Ah sudahlah, tidak baik jika saya mengira-ngira, saya takut saya salah lagi. Ya, saya sudah cukup (amat sangat) bahagia dengan apa yang saya, atau mulai saya sebut dengan kita, punya sekarang. Saya mulai bisa merasakan lagi kupu-kupu beterbangan di perut saya saat kamu menambahkan kata "ku" di belakang nama saya di setiap pesan yang kamu kirim, dan saya rasa pipi saya menjadi sedikit panas setiap kali kamu menyertakan kata "sayang" juga.

Semoga kali ini saya tidak salah lagi ya, mengartikan semua yang kita miliki dan lakukan sekarang. Terima kasih untuk "Yuk kita coba" nya tanggal 8 Agustus kemarin :)

You Might Also Like

0 comment(s)