Halo, Kamu

Thursday, December 05, 2013

Desember, hujan mulai turun di sekitarku. Entah karena sepatu yang basah, tanah yang becek, atau kebodohanku sendiri karena payungku selalu ku tinggal, aku merutuki turunnya hujan di Desember. Sepertinya aku belum merasakan euforia hujan yang sering aku rasakan sebelumnya. Atau mungkin, segala sumpah serapah yang aku ucapkan tidak lebih karena aku ingin Desember cepat berlalu, dan aku bisa bertemu dengan bulanku, Januari. 

Januari. Bulan yang aku nantikan. Bukan karena aku berulang tahun di bulan itu, tapi lebih kepada saat-saat liburan di bulan itu. Ah, liburan. Saat aku bisa sepuasnya bercengkrama dengan keluarga, teman-teman, dan sahabatku. Rasanya seperti melontar ingatan ke liburanku bulan Agustus lalu, yang ditutup dengan manis dengan seharian bermandi matahari di tepi pantai. Kemudian, bukan hanya ingatan yang muncul, rasa yang munculnya menunggu momentum-momentum tertentu, juga muncul kembali.

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Halo, kamu. Apa kabar? Berapa bulan kita tak bertemu? Seakan kita tenggelam dalam dunia masing-masing, tugas-rapat-organisasi sepertinya membuat kita lupa bahkan untuk saling memberi kabar. Masih ingatkah kamu dengan perjalanan kita di senja itu, sepertinya kita akan selalu seperti itu kan, sangat dekat, perasaan kita menguat. Tapi nyatanya tidak. Entah aku yang bosan, aku yang lelah dengan semua ke-platonik-an kita, aku menjauh. Kamu pun sepertinya tak mencoba menahanku. Kehilanganku sepertinya hal yang biasa kan buatmu? Ah, aku hampir lupa, selama ini kita hanya menganggap satu sama lain sebagai sahabat, kan? Tidak pernah lebih. Kamu harus tau sesuatu, akhir-akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya Tuhan ingin kita bersama atau tidak? Sepertinya momen-momen manis kita, membutuhkan sedikit (atau mungkin banyak) bantuan dari jari-jari takdir Tuhan agar bisa terjadi. Momentum kita, tak pernah bisa kita ciptakan sendiri, meskipun telah kita rencanakan dengan sebaik apapun.

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kamu tau, selama ini aku tak pernah mempermasalahkan memendam perasaan, menahan amarah setiap kali kamu melakukan sesuatu yang aku harap tak kamu lakukan. Aku tak masalah jika memang perhatian dan perasaanmu untukku, hanya sebatas kepada sahabatmu. Ya meskipun kadang aku yang harus memalsukan senyum dan memaksa diriku sendiri untuk tetap bersikap manis, tapi sudahlah, demi kamu. Sejujurnya kamu juga sering menjadi bahan pikiranku, bagaimana jika kamu disakiti, bagaimana jika kamu ditinggalkan, bagaimana jika kamu yang merasakan sakit. Dan jika itu benar-benar terjadi, apa yang akan aku lakukan untuk setidaknya meredakan sakitmu?? 
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Aku, selalu bahagia saat bersamamu. Baik saat hanya bisa sekedar menjadi teman sebangkumu, menjadi orang yang berdiskusi tentang banyak hal denganmu, dan jika aku benar-benar berada disampingmu. Yang aku sayangkan, saat-saat bersamamu terasa terlalu sedikit. Tidak butuh rencana, hanya spontanitas dan momentum yang tepat. Saat momentum itu habis, kita kembali berjarak, menjadi orang asing, seakan-akan lupa bahwa ada hal manis yang pernah kita lewati. Perasaan kita, momentum kita, membentuk sebuah siklus seperinya. Selamanya seperti itu? Untuk saat ini, aku berharap tidak.

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

Sepertinya memang harus aku biarkan semuanya menjadi platonik, tak bernama, tak terikat, meskipun ada keinginan untuk memiliki. Saatnya kembali lagi menunggu momentum-momentum agar kita bisa bertemu, bersenda gurau, kemudian gurat-gurat takdir akan mempertemukan kita di satu titik, membawa kita ke sebuah kesadaran, bahwa mungkin sebenarnya kita ingin saling memiliki, tapi waktu dan takdir belum mengijinkan itu terjadi.


11.28, ditengah-ditengah kelas pengantar akuntansi
Terinspirasi dari kisah kita, dan Sepatu milik Tulus

You Might Also Like

0 comment(s)