Momentum

Sunday, August 11, 2013

"Ya tapi kan itu bukan hak dia buat cerita ke orang banyak tentang apa yang dia lihat, toh dia juga nggak tahu apa-apa tentang apa yang aku lakukan saat itu, dan dia juga nggak seharusnya memberi bumbu-bumbu nggak penting di ceritanya. Dia nggak pernah peduli sama keadaanku tapi sekarang dia malah membuat keadaanku semakin buruk!" kataku tanpa jeda sedikit pun.

"Iya aku tahu, ya sudah lah, lupakan saja. Nggak baik dendam sama orang lain. Kamu fokus saja sama kuliahmu, anggap apa yang dia lakukan sebagai cambuk supaya kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa jadi orang yang lebih baik dari dia," jawabnya sambil tersenyum.

Aku tak menjawab. Memang benar apa yang dia katakan, tak seharusnya aku bersikap emosional seperti ini, hanya membuang tenagaku saja. Toh masalahnya sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Kembali aku memandang langit. Matahari sudah hampir terbenam di ufuk, tapi kami masih belum mau beranjak dari pinggir lapangan bola tempat kami biasa menghabiskan sore sambil menunggu matahari terbenam. Angin sore berhembus pelan, membuat rambutku bergerak-gerak karena ku ikat sembarangan.

"Kamu sendiri bagaimana, maksudku hubunganmu sama pacarmu. Baik?" aku mencoba memecah keheningan. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku saat aku bertanya.

"Sudah selesai. Aku yang mengakhiri. Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku ingin bersenang-senang sejenak, sebelum kembali lagi ke rutinitas kuliah dan organisasi," Kulihat dia mengatakannya sambil menunduk, kemudian tersenyum masam.

"Ya sudah. Aku berharap yang terbaik untukmu, asal kau jangan galau dan sakit lagi seperti kemarin," hanya itu yang bisa aku katakan, meskipun rasanya ada sesuatu yang melonjak gembira di perutku, dan rasa dingin yang menyejukkan tiba-tiba mengalir di dalam tubuhku.

Hening lagi. Kami sama-sama diam kali ini. Langit memerah, tapi juga bercampur dengan rona ungu yang menenangkan. Ya, seperti inilah biasanya aku dan sahabatku, menghabiskan sore saat kami ada kesempatan bertemu setelah cukup lama tak bertemu karena kuliah di dua kota yang berbeda. Kami biasa menghabiskan waktu berdua disini, bercerita panjang lebar tentang kabar kami selama di perantauan hingga matahari benar-benar terbenam. Aku masih ingat bagaimana persahabatan kami bermula di awal SMA, bagaimana persahabatan kami berjalan dengan sedikit masalah karena kekasihnya yang tak suka kedekatanku dengannya, dan bagaimana kami sempat sedikit salah arah dan hampir mengkhianati kekasih masing-masing. Dan aku juga masih ingat tiga hari yang lalu, sore hari yang berangin di lapangan bola yang sama, kami saling jujur tentang perasaan masing-masing. Aku bercerita bahwa sebelum aku dekat dengan kekasihku yang sekarang, aku pernah menaruh harap padanya, namun semuanya ku kubur saat dia mengatakan dia menyukai seorang gadis di kelasku, namun tentu saja bukan aku. Tak disangka ia mengatakan bahwa sebenarnya ia juga sebenarnya sempat menaruh rasa padaku, namun tak ia ungkapkan karena aku keburu pacaran dengan kakak kelas. Kami bercerita sambil tertawa lepas, menertawakan kebodohan kami saat itu. Tapi sejujurnya, hatiku mencelos saat tahu kebenaran bahwa rasa yang sama pernah ada di hatinya. Semuanya terlambat, menjadi tak berarti hanya karena momentum-momentum selalu datang di saat tak tepat bagi kami. 

"Pulang yuk, sudah sore. Mataharinya juga sudah terbenam tuh." dia berdiri sambil membersihkan rumput yang menempel di celana dan kaosnya. Ia kemudian berjalan menuju sepeda kami yang terparkir tak jauh dari tempat kami duduk.

Aku masih duduk karena harus mengikat tali sepatu. Tapi pandanganku tak lagi menuju sepatuku. Aku memandangnya yang sedang berjalan sambil sesekali mengacak rambutnya sendiri. Perasaan itu rasanya kembali lagi, rasa tenang, rasa nyaman, dan sedikit rasa yang disebut butterflies in my belly.  Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya, tapi aku tak bisa menghancurkan momen yang sangat langka ini. Aku berdiri, berjalan menuju arahnya yang telah menungguku di atas sepedanya. Aku tersenyum padanya, sambil berbisik di dalam hati,

"Aku mencintaimu"

You Might Also Like

0 comment(s)