Abu-abu

Monday, February 25, 2013

Aku ingat, saat itu aku memang benar-benar mengumpulkan keberanianku untuk dapat sekedar berbicara padamu. Berbicara semuanya, ya, semuanya. Apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan, apa yang aku inginkan atas dirimu

Saat itu sekuat tenaga aku tahan air mataku. Mencoba untuk tidak menangis, atau mungkin tidak menangis di depanmu. Tapi, kamu tau itu hanya sia-sia. Hanya sedetik setelah "Aku ingin kamu ada di sini", semuanya tumpah. Kerinduan, rasa haus akan pertemuan, mengalir begitu saja dengan air mata. Ya, memang hanya kamu yang aku inginkan untuk berada di sini, di sampingku.

Aku ingat bagaimana aku berdoa agar pada hari itu kamu bangun, dan memberi kabar bahwa kamu, entah akan atau telah, telah melakukan sesuatu yang nantinya akan menjadi jalan agar kita dapat terus bersama. Tapi nyatanya, tidak. Ya sudah, aku bisa apa? Itu jalanmu, dan memang sepertinya jarak harus menjadi penghalang yang nyata bagi kita. 

Kembali ke beberapa saat yang lalu, saat setelah rangkaian gerbongmu datang, dan aku sadar bahwa memang aku hanya menginginkan kamu untuk ada di sini, dan saat aku telah dengan semua keberanianku, mengatakan "Iya, aku mau", pada akhirnya. Ternyata semuanya tak cukup. Masih saja ada keraguan, masih saja ada entah apa yang tak bisa kita jelaskan, sehingga kamu memilih untuk pulang dengan melupakan semuanya. Entah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, jika memang itu yang kamu inginkan, kamu bisa pergi dan melupakan semuanya sesukamu. Tak apa. 

Kali ini biarkan saja semuanya seperti ini. Kembali abu-abu. Toh sebelumnya semuanya sudah abu-abu dan berjalan baik-baik saja. Aku tak peduli dengan putih atau hitam sekalipun. Aku, bahkan tak tau apa yang aku inginkan sekarang. Masih kamu, atau................

You Might Also Like

0 comment(s)