Sama.

Saturday, November 10, 2012

Ketika aku memilih untuk pergi, aku memang pergi, namun aku masih sempat menoleh ke belakang. Sekedar ingin tahu apakah ada yang mengejarku.

"Ah tapi sudahlah, untuk apa aku berharap, tak akan ada yang peduli."

Nyatanya aku salah. Ada orang lain yang peduli. Ada orang lain yang menarikku ke dalam dekapnya, mengusap rambutku, menghapus air mataku.
"Jangan sedih, aku ada disini," begitu katanya.

Aku menangis dalam dekapnya, lama. Sampai air mataku kering, sampai mataku bengkak. Ia tidak mempermasalahkan pakaiannya yang sudah basah karena air mata dan ingusku. Ia tetap memelukku. 

"Aku cinta padamu. Aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamamu," katanya lirih, tiba-tiba.

Aku terhenyak, bahkan aku baru saja berhenti sejenak untuk mengistirahatkan hati, ada orang lain yang meminta hatiku bekerja lagi. Sejujurnya aku lelah, sangat lelah. Aku ingin istirahat sekarang. 

"Beristirahatlah disini, bersamaku. Jangan khawatir, aku mau menunggumu."

Ah, menunggu lagi. Kata itu begitu membuatku teringat pada alasan mengapa aku pergi. Kenapa semuanya harus terulang lagi? Kenapa menunggu lagi? Seketika aku merasa bahwa aku adalah orang yang tidak punya hati, aku orang paling jahat di seluruh dunia. Aku tak mungkin membiarkan orang yang tulus menyayangiku terluka, namun aku juga belum, mungkin tidak siap bicara cinta lagi. Sudah ku katakan, aku hanya ingin istirahat. Aku ingin mengistirahatkan hatiku yang sudah terlalu lelah memikirkan cinta, sayang, penantian, atau apalah hal lain yang ada hubungannya dengan itu semua. Tapi mengapa semuanya harus serumit ini?


You Might Also Like

0 comment(s)