THE CASTA : Friendship, Family, Love :)

Tuesday, October 04, 2011



Di dunia ini kita nggak mungkin hidup sendiri. Ada keluarga, teman, sahabat, pacar, musuh, bahkan orang-orang yang nggak kita kenal yang ga pernah berhenti lalu-lalang di sekitar kita selama kita hidup. Dari banyak orang itu, yang paling berharga adalah keluarga. Jelas lah, kita nggak akan ada di dunia ini tanpa keluarga kita, terutama tanpa Ayah dan Ibu. Tapi, ada lagi yang berharga, yang bakal kita inget selama kita hidup, walaupun nggak selamanya kita bisa sama-sama mereka. Yap, SAHABAT. Sadar atau nggak sadar, sahabat udah jadi salah satu bagian terpenting di hidup kita. 

Kali ini, aku punya sedikit cerita tentang sahabat-sahabatku. THE CASTA, kepanjangan dari Cah AkSel perTAma (the Cuma pertikel, ga penting :p). Kami dipertemukan oleh sesuatu yang disebut ‘IQ tinggi’ setelah kami ikut tes IQ untuk seleksi kelas akselerasi. pada akhirnya “IQ tinggi” bukan lagi pemersatu, tapi “kegilaan”, “ke-sempal-an”, dan “absurdisme” lah yang menjadi pemersatu kami.

Kami pernah sengaja menaruh karet gelang di meja guru saat jam pelajaran Bahasa Indonesia dan guru kami phobia terhadap karet gelang. Kami pernah di-strap saat upacara hari senin karena rebut sendiri, padahal saat itu kami sedang tes mid semester. Kenyataannya bukan salah kami sepenuhnya sehingga kami ramai, pengawas yang tak kunjung datang padahal tes dimulai pukul 07.30, sementara di lapangan diadakan upacara seperti biasa, kami bukan manusia-manusia yang bisa diam saat tak ada guru, Pak! Kami selalu merayakan ulang tahun salah satu personil kami dengan perang tepung. Kami juga suka bermain ciprat air saat hujan turun dan airnya menggenangi teras kelas kami.
Kali ini biar aku mencoba mengingat satu persatu sosok anggota THE CASTA yang hingga kini masih terekam di otakku.

Alam Perdana Sukma (Upil): Paling absurd diantara yang lain, keras kepala, pengagum Rowan Atkinson atau Mr. Bean tepatnya, paling jarang mengumpulkan tugas, sering terlambat padahal rumahnya dekat dengan sekolah, pernah berdebat dengan kepala sekolah saking seringnya terlambat, pemilik kaos kaki paling bau yang pernah aku temui

Anisa Mifrohatun Fathiyah (Atoen): Pemilik blog ini, jadi tidak bisa menilai dirinya sendiri ;)

Elisa Purwatmoko Giovani (Moko): Lelaki kedua selain Alam (karena memang hanya ada 2 lelaki di kelas kami -_-), badan proporsional, good-looking, hobi main sepakbola, punya jas hujan ungu yang kami sebut terong, jarang terlibat hubungan dengan wanita, sering ke kamar mandi bersama Alam (what the hell were you two really doing?!)

Erika Rahmawati (Mbah Uyut): Paling brilian di antara kami berdelapan, pernah suka (terobsesi.red) pada seseorang yang sekarang jadi pacar temanku, paling tidak jelas dalam hal tertawa, murid kesayangan Ma’am Ro’aeta selain Wanda, pernah menangis (entah karena terharu atau sebel) saat kami jahili di hari ulang tahunnya.

Giska Ova Gradistya (Bendot): Soulmateku, tomboy, partner terbaik saat ulangan, trauma naik becak, pernah bertengkar dengan Alam karena CD yang pecah, paling tak punya hati saat menjahili, sahabat terbaik untukku

Meitrika Damayanti (Memet): Kurus, kecil, keriting, hitam manis, hidung mancung, selalu diantar-jemput sang kakak, tak bisa makan jika dilihat dari dekat, absurd walaupun terlihat pendiam, diisukan terlibat cinta segitiga dengan Yolla dan Elisa, selalu sakit setelah minum es, saat mangunyah makanan harus 32 kunyahan, punya tas yang tak seimbang dengan bentuk tubuhnya yang kecil.

Wanda Pribadi (Wanto): Soulmate Erika, pintar, rajin, rajin berangkat pagi, paling taat peraturan, rumahnya sering kami gunakan sebagai basecamp, pernah punya rambut yang sangat panjang, jidatnya nonong :D, murid kesayangan Ma’am Ro’aeta, pernah keseleo saat penilaian shooting bola basket, pernah jatuh saat sedang berjongkok mengepel ruang kelas, yang paling kreatif diantara kami berdelapan.

Yollanda Zilviana Devi (Yollantung): Paling muda diantara kami berdelapan, gaya andalannya adalah “Monggo” ala Semar RM Kembang Joyo, rambutnya keriting kecil-kecil, punya cinta monyet bernama Adit, pernah masuk angin akut saat Outbound di Jatim Park Malang, selalu jadi kalah-kalahan, paling tidak bisa melawan kata-kata kami bertujuh, kesayangan guru karena rajin dan polos, juga karena tampang imutnya.


Kami memang hanya berdelapan, tapi karena berdelapan itulah kami menjadi dekat, sangat dekat satu sama lain. tak ada rahasia yang kami tutupi, dulu. Kini kami telah menempuh jalan kami sendiri-sendiri demi cita-cita kami. Persahabatan kami tidak serta-merta hilang, kami tetap berkomunikasi dan dekat satu sama lain, walaupun tak sedekat dulu lagi.
Miss you, guys

You Might Also Like

6 comment(s)